Rekaman jejak pencapaian masa depan

Sahabatku saat kamu bertanya kepadaku tentang apakah cinta itu, hal itu mengingatkanku pada sebuah episode dimana aku bertanya hal yang sama kepada seniorku. Waktu itu aku masih tingkat satu dan murabbiku di kampus bertanya: benarkah “ini” cinta? Aku yang hanya tahu mengagumi banyak orang (laki maupun perempuan) karena sifatnya semata, tak begitu paham tentang cinta. Maka inilah jawaban beliau yang masih kuingat, “Kalau kamu belum merasakannya, jangan kamu paksa dirimu memahaminya sebab ia rasa sakit yang tak dimengerti oleh penderitanya. Kalau kamu sudah merasakannya, maka ibarat hati itu satu rongga, penuhilah rongga itu dengan satu cinta: Allah saja… sedangkan cinta lain merupakan konsekuensi cinta kita kepada Allah…”

 

Sahabatku awalnya aku tak paham apa maknanya sampai aku benar-benar mengalaminya sendiri. Sakit? Ya, ternyata ia hanya sakit jika tak ada ikatan yang menghalalkannya. Ia tak memiliki alasan untuk memiliki. Ia hanya memiliki konsekuensi rindu dan cemburu yang hanya membuat pikiran terkuras, waktu habis, dan tak berpahala! Ia membuang waktu produktif kita dan membuat kita seringkali meneteskan air mata sekedar untuk memendamnya. Memendamnya? Tak bolehkah kita menyatakannya?

 

Sahabatku jangan katakan “aku cinta” jika kita tak mengerti apa konsekuensinya. Berjuta alasan yang kita ungkap untuk mencari pembenaran menyatakannya, jika tak punya keberanian untuk menghalalkan cinta, nilainya di sisiNya hanya 0 semata. Nol? Yakinkah hanya nol atau jangan-jangan malah menjadi minus? Saat sang dia malah tertular penyakit kita, atau bahkan kita dan sang dia terjebak pada jeratan setan yang terhias begitu indah di nafsu kita, saat itu… benarkah Allah ridha? Apakah harga surga begitu murah sehingga maksiyat bisa membelinya?

 

Sahabatku saat kamu kata tak punya alasan logis untuk menangkalnya karena perasaan menjadi begitu dominan menguasai jiwa, memang itulah cinta. Maka, ingatlah kembali episode mereka yang meninggikan cintaNya kepada Allah jauh di atas cinta lainnya. Semoga mereka bisa menjadi motivasimu dalam “melupakan” cinta. Setelah itu, sibukkanlah dirimu dengan aktivitas yang membuatmu lupa: aktualisasikan diri sampai kamu tak punya banyak waktu memikirkannya. Jika kamu sungguh ingin melepasnya dulu, bayangkanlah sang dia memiliki sifat buruk yang kita benci. Jika seribu ikhtiar yang kamu lakukan belum cukup untuk menawar duka, tak ingatkah masih ada Dia tempat meminta?

 

Sahabatku bukankah kamu pun tahu bahwa Dialah yang Maha membolak-balikkan hati? Mintalah rasa itu ditunda jika waktu belum tepat untuk menghalalkannya… tapi jika memang jawabanNya adalah berjuang untuk menghalalkannya, apa lagi yang membuatmu menunda? Perjuangkan cinta tak setengah-setengah! Minta Allah untuk membantumu menuju kebaikan yang diridhaiNya walau itu dengan jalan yang tak disangka-sangka… jawabanNya? Bagaimana kita tahu Dia menjawab saat kita bertanya?

 

Sahabatku istikharahlah… jangan ragu bahwa Dia lebih tahu tentang diri kita bahkan dibanding diri kita sendiri. Dia yang Maha hidup dan tak pernah mengantuk, setiap waktu dalam kesibukan menjaga dan memelihara kita. Sahabatku, Dia satu-satunya yang tak jemu mendengar keluh kesah yang sama saat yang lainnya sudah menutup telinga. Masihkah kita sangsikan kebaikanNya? Masihkah kita ragu bahwa Dia takkan memilihkan yang terbaik saat kita meminta? Lupakan egomu, Sahabatku biarkan ego larut dalam tangis kepasrahan. Jangan biarkan ilah tertukar, jangan sampai cinta menjadi segalanya di atas Allah (na’udzubillah)! Bukankah cinta hanya sarana? Bukankah cinta hakiki hanya yang kekal di sisiNya? Dan tujuan kita masih pertemuan dengan Allah di surga?

 

Sahabatku sekarang kamu sudah merasakan apa itu cinta. Ia adalah fitrah yang dikaruniakan sejak Adam merasa tak lengkap dengan hidupnya tanpa seseorang: Hawa. Ya, cintalah juga yang membuat Adam dan Hawa saling mencari setelah terusir dari surgaNya. Ia adalah kecenderungan agar hati merasa tentram saat bersamanya dan gelisah saat lama tak bersua. Akan tetapi, menumbuh dan menyuburkannya adalah pilihan! Maka, saat cinta diusung tinggi-tinggi, ingatlah saat ia harus jatuh, rasa sakitnya berbanding lurus dengan tingginya cinta… lantas jalan apa yang akan kita pilih agar ia tidak sakit atau justru barakah? Hmmm, betul, Sahabatku kamu sudah tahu apa jawabannya…

 

Memperjuangkan cinta ini hanya memiliki dua pilihan:

1. Bersungguh-sungguh mengembalikannya (mundur melupakannya)

2. Bersungguh-sungguh memperjuangkannya (maju menikahinya)

Maka, jalan mana yang kan kamu pilih saat ini? Aku yakin kamu sudah pintar menentukan pilihan. Ya, memperjuangkannya itu bukan setengah hati, bukan setengah ikhtiar, dan bukan setengah tawakkal. Akan tetapi engkau harus bersungguh-sungguh memperjuangkannya.

 

Sumber: http://chie135.wordpress.com/2011/05/18/ketika-rasa-itu-begitu-menusuk/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: